Durjana Rina
Sinopsis Buku
"Buku ini bermula dari sebuah bangku basah di Alun-alun Wiraraja Mojokerto, setelah hujan reda. Di sanalah seorang perempuan yang kehilangan bertemu dengan seseorang yang mengajarinya bahwa puisi bukanlah kolam air mata, melainkan samudera yang dalam, liar, dan biru.
Durjana Rina adalah catatan perjalanan pulang—bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke diri sendiri. Ia ditulis dalam dua bahasa yang saling berpelukan: Indonesia yang puitis dan Jawa yang membumi, seperti napas yang tak bisa dipisahkan dari tubuhnya.
Kepada siapa pun yang pernah menunggu janji yang tak ditepati, yang pernah merasa sebagai hujan yang salah jatuh: buku ini hadir sebagai kawan. Kawan yang menuang teh hangat, duduk di sampingmu, dan berbisik, ""Aku ngerti. Saiki wayahé ngadeg manèh."""
Buku Terkait